Rabu, 20 Juni 2012

Cinta pertama

Ada yang memanggilku ketika aku baru sampai di gerbang sekolah. “Nay...” teriak Nisa, aku menoleh ke belakang. Aku lalu menghampirinya, sesampai di hadapannya Nisa menggiringku ke belakang sekolah aku benar-benar kaget. Dia mengodok saku rok merahnya dan mengeluarkan sebuah kertas yang di lipat menjadi kecil, dia memberikannya padaku, aku lalu membukanya.
“Nay ... aku cinta sama kamu, kamu mau jadi pacar aku? ...” itulah yang tertulis di surat yang ku baca. Aku mulanya tak menyangka ternyata lelaki yang dari dulu aku suka sekarang mengatakan hal yang dari dulu aku tunggu, tapi sayang perasaanku padanya sudah blank, tak ada apa-apa karena massa waktu panjang juga yang telah menghapus perasaan ini. Aku menggulung-gulung surat itu dan melemparnya, sesaat kemudian aku ambil lagi. Waktu itu yang ku rasakan sangat tak karuan, semuanya bercampur jadi satu. Aku gugup ketika bel masuk kelas berbunyi karena Raga itu sekelas denganku, aku nerves, maklum anak kecil ...
Surat itu Raga berikan tanggal 22 Desember 2004 aku masih berumur 11 tahun waktu itu. Aku ingin tertawa kalau harus melihat kebelakang prihal masalah cinta monyet yang ku rasa empat tahun lalu.
“Udah lah Nay ... jangan gugup gitu...” bisik Nisa, aku masuk kelas dan duduk di samping Nisa, mukaku memerah bibirku bergemetar, mau bicara sangat kaku. Raga juga terlihat begitu, dia terlihat malu ketika aku ada di hadapannya. Aku berusaha untuk mengubur rasa gugupku agar aku terlihat gadis cilik yang biasa mendengar cinta, huh ... padahal itulah kata cinta pertama yang baru ku dengar.
“Kenapa yah dia selalu menghindar kalau aku ada di hadapan dia?”

“mungkin karena dia malu, Nay ... “ jawabnya dengan gesit
“malu kenapa? ...” aku masih penasaran benar
“takut di tolak mungkin ... !! oh yah, btw, dia itu bakalan kamu terima?”
“yah ... nggak lah ... !! aku masih kecil ... “
“sayang kan Nay ... dia itu udah alim, baik, lugu, ganteng lagi. Bukannya itu yang kamu harepin dari dulu?”
“Iya sih .... tapi ... nggak ah, lagian aku sama Raga nggak terlalu akrab. Bakalan borring kalau kita jadian”
“pedekate dong ... hubungan kan massa pendekatan jadi fine aja ... “
“ah, sok tua loh ... emangnya situ sendiri udah punya pacar???” aku menghindar dari Nisa, takut pembicaraann kami tentang Raga memanjang.

Pada suatu hari, sikap Raga padaku menjadi keterlaluan. Sedikit demi sedikit dia mulai berani memegang tanganku, aku menjadi kurang enak dengan kelakuannya. Pada saat itu Aina dan Dira memaksaku untuk masuk kelas karena di dalam ada Raga sedang menunggu jawabanku. Aku benar-benar shock ketika melihat di kelas hanya ada Aina, Dira, dan Raga. Aku menjadi merasa takut ... di dalam aku di paksa untuk bicara berdua dengan Raga, Raga memegang tanganku dengan erat hingga lengan tanganku memerah karena terlalu keras. Waktu itu aku sangat kesal pada semua teman-temanku yang terlibat peristiwa itu, akhirnya aku kabur dari sekolah.
Akhirnya sore hari aku main ke rumah Ani bersama adikku – Ayu – membawa surat penolakan cinta untuk Raga. Karena aku masih kesal pada Nisa akhirnya aku menyuruh Ani untuk ke rumah Nisa, rumah Nisa tidak jauh dari rumah Ani. Beberapa saat kemudian Nisa datang menghampiriku.
“Nay, aku minta maaf yah ... aku nggak bermaksud untuk ...”
“ah ... aku benci sama kamu ... pantes aja kamu nyuruh aku ke kelas ternyata ada Raga” aku memotong pembicaraan Nisa
“yah ... Nay ... maafin aku yah ... aku janji deh nggak bakalan ulangin itu lagi”
“oke aku maafin, tapi ada satu syarat, kasih ini surat ke Raga sekarang karena kalau di tunda besok dia nanti nyosorin aku lagi ...”
“iya, nanti aku kasih ...” Aku lalu pulang begitupun Nisa

“Ga ... !!” teriak Nisa
“ada apa?” tanyanya
“nih surat dari Naya ...” Raga sangat girang menerimanya
“di tolak??? ... yah ... gagal deh cinta pertama gue ... ini semua gara-gara loh, kalau aja loh tadi siang nggak maksa dia masuk kelas pasti dia nggak bakalan nolak gue ...”
“PD loh gede ... !! lagian siapa suruh megang tangannya, ganjen sih loh ... !!”
“duh, gimana dong riwayat gue sekarang ... patah hati gue ...”
“makan tuh patah hati ...” lalu Nisa masuk rumahnya

Raga terlihat sedih ketika menerima surat dariku, katanya “kalau cinta pertama di tolak, kesannya makin sulit di lupakan” ternyata kata-kata itu ada benarnya juga, memang benar sih ... sekarang sudah empat tahun masih saja seluk-beluk cerita cinta itu masih ku ingat benar.
* * *
Beberapa bulan kemudian aku lulus SD aku masuk ke SMP Harafan Bangsa Jakarta ternyata si Raga masuk ke sekolah yang sama, aku bahagia bahagia kesal ... !! Ketika di tanya salah satu temanku tentang perasaannya padaku, ternyata dia masih meyukaiku, Alhamdulillah ... !!! Lulus orientasi kami mulai belajar, ternyata tahukah yang terjadi Raga menembak seseorang namanya Nola dia anaknya cantik, kulitnya putih dan ah pokoknya standar deh ... pantas saja kalau Raga menyukainya. Selain dia cantik dia juga pintar memikat lelaki. Aku memang kalah dengannya tapi aku mulai menyadari kalau Raga tak akan langsung menyukai Nola karena hatinya masih tertuju padaku.
Aku menjadi merasa benci pada Raga ketika tahu dia menyukai lagi Hesa. Hesa .... anaknya cantik juga, kecantikannya mengalahkan Nola dan aku, putih kulitnya tapi kekanak-kanakan, cerewet ... !!!

Ketika itu Raga duduk bersama Nola dan Hesa, Raga di suruh menulis kata I love you di tangannya. Dan tak tahu kenapa Hesa berteriak memanggil namaku “Naya... Raga tulis I love you buat kamu ...” teriaknya sambil memperlihatkan tangan kiri Raga padaku. Aku hanya tersenyum saja mendengar itu, ternyata Raga kecil-kecil pintar mengutik hati.
Hesa menghampiriku yang sedang duduk di depan bersama Ana. “Nay, Raga tulis I love you Naya ... di tangan kirinya” utas Hesa, aku tetap utarakan senyum sambil melihat Raga yang agak sedikit malu. Jam istirahat kami – aku dan Raga – duduk di depan kelas, Raga ada di depanku. Aku penasaran ingin melihat tulisan tangan itu tapi ternyata sudah tak ada, ternyata Raga menghapusnya dengan air ludah saat aku mulai tahu.
“Ternyata meskipun udah nembak cewek lain, nama aku selalu ada di hati dia, terimakasih Tuhan ...” bisikku dalam hati. Aku tak pernah berhenti memikirkan Raga, bayangnya seakan selalu ada di otakku.
* * *
Malam Rabu, Raga datang ke rumahku dengan memakai baju berwarna merah yang berbahan kaos. Dia menyuruhku menghampirinya, lalu aku pun menghampirinya dan duduk di sampingnya. Katanya ada hal yang ingin dia bicarakan, dia ke rumahku bersama Galuh, teman akrabnya.
“Nay ... kata Raga kamu mau nggak jadi pacarnya?”
“Ehm ... gimana yah ... duh ... gimana yah .... !!” aku nerves, gugup sekali
“katanya dia sayang sama kamu ... dia minta jawabannya sekarang”
“kok kesannya malah Galuh yang ngomong yah ...” bisikku ketika menunduk
“Naya ...” utas Galuh sambil mengayunkan tangannya ke hadapanku
“Ehm ... gini ... bentar lagi kan Ujian akhir, aku ... aku ... masih nggak mau Ga ... kamu ngerti kata-kata aku kan...???” logatku sangat beda
“di tolak lagi Ga ...” bisik Galuh
“pulang yuk...!!” ajak Raga yang terliat kecewa
“Ga ... maafin aku yah ... ” tutur kataku sebelum Raga pulang
Kata cinta itu adalah yang kedua kalinya, dan itu juga yang kedua kalinya aku menolak cintanya, sebenarnya aku mencintainya bahkan sangat tapi karena aku masih teramat kecil jadinya aku putuskan untuk tidak berpacaran dulu. Aku kasihan melihat kekecewaan yang di rasakan Raga. Aku mengerti bagaimana perasaannya setelah di tolak dua kali, memang bukan malu saja yang makin besar tapi tingkat kegengsian untuk menembak lagi makin membesar. Maaf kan aku Raga ...
Semenjak aku tolak Raga yang kedua kalinya itu, sikap Raga menjadi aneh lagi padaku, yang tadinya sudah akrab sekarang malah tampak malu-malu, aku pun begitu. Akhirnya aku putuskan untuk mengajak Raga bicara empat mata, agar persoalan ini cepat selesai, dan kecanggungan Raga untuk akrab lagi dengan ku bisa hilang.
Di depan jendela yang terbuka lebar aku bicara berdua dengan Raga, Raga tampak malu-malu, bicaraannya kosong seolah membisu. Karena aku sebagai orang yang mengajaknya akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya duluan. Aku memang gugup ketika Raga mulai ada di hadapanku, bibirku bergemetar entah harus kata-kata apa yang ku mulai.
“Gimana kabarnya? ...” sapaku
“baik” jawaban singkat itu semakin menambah rasa maluku
“kamu masih marah sama aku?”
“nggak” dia ulangi lagi aku hanya mampu menghela nafas dalam-dalam menahan emosi yang hendak keluar
“tuh kan ... kamu masih marah ... !! ayo lah teman ... ! jangan karena di tolak cinta kamu jadi berubah ... !! kita masih tetap teman”
“jujur yah ... sebenarnya aku malu sama kamu karena udah dua kali aku nyakitin kamu tapi demi persahabatan kita tetep maju akhirnya aku beraniin diri untuk ngomong sama kamu. Ga ... aku haraf kita kayak dulu lagi yah ...” lanjutku
“oke ... !! kita temen ...” utasnya, aku lega ...

Sejak hari itu kami pun menjadi biasa lagi seperti dulu, rasa canggung kami memang masih tebal, tapi kami bilas itu semua dengan canda kami satu sama lain. Aku bahagia akhirnya cinta pertamaku seperti dulu lagi, oops ... !! aku masih mencintainya (sejak itu) masih ingin selalu di perhatikan.
Lama kelamaan, beberapa bulan kemudian akhirnya perasaan cinta itu sudah hilang, ternyata waktu memang mampu menghapus rasa yang ada di hati. Masuk kelas 2 SMP aku temukan lagi cinta yang baru, yang sampai saat ini masih aku rasakan. Cinta pertama season 2 memang tak seindah season 1 karena cinta yang ini beda dari cinta yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar